Adjie Massaid Meninggal karena Kelelahan dan Stres
Lifestyle + / Minggu, 6 Februari 2011 18:02 WIB
Jika mengaca pada pola hidup yang gemar berolahraga dan mengonsumsi makanan sehat, rasanya tak mungkin ayah tiga anak itu terkena serangan jantung. Sehingga, penyebab kematian pria yang pernah malang melintang di jagat hiburan Indonesia itu diduga karena kelelahan dan stres.
Menurut sejumlah penelitian, pola hidup seseorang dapat meningkatkan seseorang terkena serangan jantung seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, merokok, dan kurang aktif berolahraga. Faktor lainnya yakni gangguan diabetes, kegemukan, riwayat keluarga, stres, usia, dan jenis kelamin.
Namun, pengendalian terhadap faktor-faktor risiko tersebut akan membantu seseorang terhindar dari aterosklerosis dan juga serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa olahraga (seperti aerobik) secara teratur dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung, meningkatkan kemungkinan hidup apabila terkena serangan jantung, dan mengurangi risiko kematian mendadak. Namun, apabila kondisi seseorang sedang kelelahan, peningkatan aktivitas fisik yang tinggi akan dengan cepat menaikkan denyut nadi.
Terlebih bila olahraga seperti sepakbola yang memiliki gerakan eksplosif tidak disesuaikan dengan usia, hal ini justru membahayakan jantung. Pada kasus Adjie Massaid yang sudah berusia di atas 40 tahun, bermain sepakbola masih bisa ditoleransi dengan cara menurunkan dosis aktivitas fisiknya untuk menghindarkan meningkatnya detak jantung, tekanan darah sistolik, cardiac output dengan cepat.
Pada saat berolahraga, peningkatan juga terjadi pada aliran darah ke jantung, otot, dan kulit. Pada kondisi ini, metabolisme tubuh menjadi lebih aktif menghasilkan karbondioksida (CO2) dan ion proton pada otot, yang membuat pernapasan terjadi lebih cepat dan lebih dalam untuk memasok oksigen lebih banyak akibat terjadi peningkatan metabolisme. Tapi ingat, olahraga berat membuat metabolisme tubuh tidak bisa lagi hanya mengandalkan pasokan oksigen, melainkan juga menggunakan proses biokimia.
Nah, proses biokimia ini menghasilkan asam laktat yang kemudian memasuki aliran darah. Penumpukan asam laktat ini akan membuat tubuh merasa lelah saat berolahraga. Tak cuma itu, kadar oksigen juga menurun akibat penumpukan karbondioksida dalam darah. Jika oksigen turun maka sel-sel tubuh akan mati. Ketika banyak sel yang mati, miliaran darah juga akan mati, dan ini akan menurunkan pH tubuh dari kisaran normal 7 menjadi di bawah 6,5. Kondisi ini yang menyebabkan kerap terjadi kram otot dan kram jantung, sehingga memicu serangan jantung setelah berolahraga.
Lantas, olahraga apa yang sesuai dengan orang yang berusia di atas 40 tahun? Sebenarnya tidak ada batasan umur atau jenis kelamin untuk berolahraga. Tapi memang harus disesuaikan dosisnya, artinya intensitasnya jangan terlalu tinggi. Jika kita menginginkan tubuh yang sehat sekaligus proposional, maka pilihlah jenis olahraga berdasarkan tingkat kegemukan.
Bagi mereka yang masuk kategori gemuk (lingkar pinggang pria: 89 cm, wanita: 81 cm), disarankan melakukan latihan aerobik. Sedangkan bagi mereka yang masuk kategori sedang, disarankan untuk melakukan latihan beban dan aerobik yang seimbang.
Dan bagi mereka yang telah memiliki tubuh atletis, maka bisa melakukan lebih banyak latihan beban dibanding aerobik. Adapun yang termasuk dalam kategori aerobik meliputi berjalan kaki, jogging, renang, bersepeda, dan juga beberapa jenis permainan seperti tenis meja, bulutangkis, sepakbola dan futsal.(go4/***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar